Desa

Mekarnya Kampung Mawar Jember

Desa Karangpring menjadi ikon baru di Kabupaten Jember. Penghasil mawar merah sebagai modal pengembangan desa wisata.

Andi Saputra
Mekarnya Kampung Mawar Jember
Desa Karangpring, Kabupaten Jember menghasilkan bunga mawar merah sebagai komoditas desa. Andi Saputra / Kanal Desa

Sehari-hari, Sukron menghabiskan waktunya di ladang mawar yang tak jauh dari rumahnya. Ia terlihat menenteng ember kecil dan gunting, lalu memetik satu persatu mawar-mawar merah ini.Di rumahnya, ia akan memisahkan kelopak bunga dari tangkainya. Kemudian, menjemur kelopak-kelopak ini di atas tampan bambu.

“Dijemur dulu sampai warnanya coklat, baru bisa diproses jadi teh,” kata Sukron, petani mawar di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Mengolah kelopak mawar menjadi teh, bukan perkara yang susah. Cukup dipetik, dipisahkan, dijemur, lalu dioven hingga tampak menjadi teh. Proses ini tak butuh lama. Saat warna mawar menjadi kecoklatan, sudah cukup untuk diproses dalam oven. Lalu teh ini siap untuk dihidangkan.

Menurutnya, teh mawar ini kaya akan antioksidan dan baik untuk pencernaan. Lebih segar diseduh tanpa gula agar lebih terasa sensasinya.

Olahan teh mawar memang meningkatkan nilai tambah hingga berkali lipat. Satu kantong teh mawar, ia jual seharga Rp 25 – Rp 50 ribu tergantung dari ukuran kemasan.

Desa Karangpring memang terkenal sebagai penghasil bunga mawar. Para petani di sini banyak menanam bunga mawar merah untuk berbagai keperluan. Seingat Sukron, desanya sudah menanam bunga mawar sejak tahun 1990. `

“Mulai dulu, Karangpring terkenal mawar. Dari saya kecil ladang-ladang wes ada maware,” katanya.

Sensasi baru menjadikan bunga mawar merah menjadi teh siap seduh dari Desa Karangpring, Kabupaten Jember.
Sensasi baru menjadikan bunga mawar merah menjadi teh siap seduh dari Desa Karangpring, Kabupaten Jember. Andi Saputra / Kanal Desa

Namun, baru Sukron yang kini fokus mengembangkan teh mawar ini. Biasanya, mawar merah dijual untuk keperluan nyekar maupun hajatan warga. Teh mawar milik Sukron mulai diolah sejak tahun 2017 saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Universitas Islam Jember (UIJ). Saat KKN, ia memilih desanya dan bersama kelompok mengembangkan produk olahan teh mawar ini.

Hasilnya, ternyata tidak mengecewakan. Produk teh mawar mendapatkan banyak apresiasi dari desa, kampus dan masyarakat untuk mengembangkan produk ini menjadi produk unggulan desa. Dukungan pun datang bersambut dengan penyediaan dana pengembangan untuk pembelian alat produksi.

“Lalu mulai saya jual dan masuk ke pasar online,” katanya bangga. Banyak pelanggan yang berminat untuk menyeduh teh ini. Pembeli datang dari berbagai daerah di Indonesia, hingga ke Malaysia hingga tahun 2021.

“Pandemi membuat permintaan berhenti,” kata Sukron yang hingga saat ini mengantongi pendapatan rata-rata sebesar Rp 5 juta tiap bulan. Selain itu, kini ia mengembangkan ke produk lainnya, seperti sirup mawar, pomade mawar, bahkan olahan makanan, nugget mawar. Produk-produk ini masih ia kembangkan agar dapat market yang lebih luas lagi.

Saat ini, perkebunan mawar seluas 50 hektare dan tersebar di tiga dusun, Dusun Karangpring, Dusun Gendir, dan Dusun Durjo. 80 persen tanaman mawar mendominasi Dusun Karangpring dan sisanya ada dua dusun. Tak heran, jika Karangpring, sering mendapatkan kunjungan untuk melihat rona merah mawar ini. Dan menikmati suasana dan aroma perkebunan mawar mewar.

“Kunjungan ini juga menambah penghasilan bagi warga,” kata Sukron.

Warga Desa Karangpring pada umumnya bekerja sebagai petani. Selain berkebun mawar merah mereka juga menanam jagung dan palawija lainnya.
Warga Desa Karangpring pada umumnya bekerja sebagai petani. Selain berkebun mawar merah mereka juga menanam jagung dan palawija lainnya. Andi Saputra / Kanal Desa

Secara umum, petani mawar merah Karangpring menjual dalam bentuk bunga segar. Satu kantong plasti seharga Rp 10 ribu. Dalam satu tahun, terdapat empat waktu panen besar mawar ini. Pertama, setiap Jumat, setiap satu bulan sekali. Musim ramadan dan Idul Adha, serta Hari Raya Ceng Beng, saat umat Tionghoa merayakan hari yang jatuh setiap tanggal 4-6 April.

“Saat hari Ceng Beng ini atau Festival Qingming harga per kantong plastik bisa 200 ribu,” katanya. Potensi ekonomi inilah yang kemudian membuat banyak warga beralih ke mawar. Sebelumnya, mereka menanam padi dan jagung.

Mawar memang cocok dengan kondisi alam Desa Karangpring yang berada di dataran tinggi ini. Tanaman ini tidak mengenal musim dan tahan dengan hama. Setiap hari selama 10 tahun tanaman ini terus menghasingkan bunga mekar yang sedap dipandang mata.

Akhirnya, keberadaan mawar ini menjadi identitas yang membuat harum nama desa dan Kabupaten Jember selain terkenal karena tembakaunya. Tahun 2022, Pemerintah Kabupaten Jember, membangun monument bunga dekat pintu masuk desa. Tak hanya itu, lapak UMKM dibangun khusus sebagai toko oleh-oleh produk mawar.

Paguyuban Wanita Cinta Karangpring atau Pawacika menghasilkan batik bermotif mawar merah sebagai salah satu produk unggulan desa ini.
Paguyuban Wanita Cinta Karangpring atau Pawacika menghasilkan batik bermotif mawar merah sebagai salah satu produk unggulan desa ini. Andi Saputra / Kanal Desa

Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga

Selain Sukron, kini ada perkumpulan ibu rumah tangga yang giat mengembangkan dan memproduksi produk turunan dari bunga mawar. Mereka adalah Paguyuban Wanita Cinta Karangpring atau Pawacika. Perkumpulan ini beranggotakan ibu rumah tangga, anggota PKK, dan kader Posyandu. Terbentuk pada tahun 2019 dengan jumlah anggota sebanyak 20 orang mewakili setiap dusun.

“Ibu-ibu bisa mendapatkan ekonomi tambahan,” ujar Musliha, pengurus Pawacika. Pawacika dibentuk untuk memberikan pelatihan dan pendampingan agar mereka lebih mandiri. Kelompok ini membuat produk seperti, sabun mawar, jeli, dan batik mawar khas Desa Karangpring bercorak bunga mawar.

“Ini adalah produk unggulan kelompk kami,” ujar Musliha sembari menunjukan 4 potong kain batik produksi Pawacika.

Tak mudah mengajak kelompok ibu rumah tangga dengan berbagai macam latar belakang. Pendekatan arisan menjadi cara untuk menjaga kekompakan dan semangat guyub. Program pengembangan kelompok ibu rumah tangga ini pun akhirnya terbentuk. Berbagai produk kelompok ini sering mengikuti pameran UMKM maupun dijual secara konvensional dan online. Termasuk melalui media sosial.

“Orang semakin tahu dengan produk ini. Kain batik kami menjadi seragam wajib siswa sekolah. Jadi kelompok ini bisa semakin berkembang,” katanya. Satu helain kain batik Pawacika dijual seharga Rp 150 ribu untuk ukuran dua meter. Jika pesanan banyak bisa dijual seharga Rp 130 ribu.

Seperti Sukron, pandemi juga menghantam usaha kelompok ini. Namun, Musliha yakin, ia bersama kelompoknya, bisa kembali merintis usaha kelompok mereka. Kelompok Pawacika saat ini mendapatkan pendampingan Program Hibah Dana Desa dari Universitas Jember dan Politeknik Negeri Jember serta Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Dinas Perkebunan Kabupaten Jember. Berbagai pendampingan ini untuk meningkatkan kualitas produk kelompok agar mereka semakin maju.

Rose Monument menjadi lanskap baru bagi Desa Karangpring sebagai penghasil bunga mawar merah.
Rose Monument menjadi lanskap baru bagi Desa Karangpring sebagai penghasil bunga mawar merah. Andi Saputra / Kanal Desa

Dukungan Pemerintah Desa

Produk olahan bunga mawar menjadi produk unggulan yang kini makin diseriusi oleh Pemerintah Desa Karangpring. Menurut Kepala Desa Karangpring, Ahmad Sahri, potensi ini telah menjadi tulang punggung masyarakat desanya. Salah satu yang akan didorong terkait promosi agar semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Salah satu langkah agar semakin dikenal, kini Desa Karangpring sudah memiliki monument mawar setinggi empat meter dan berada di tengah lapangan Dusun Karangpring. Di sisi monument itu terdapat stand-stand tempat menjajakan produk olahan dari mawar merah ini.

Sentra produk olahan mawar merah ini diharapkan bisa digunakan oleh para pelaku UMKM Karangpring untuk terus mengembangkan berbagai produk turunannya.

“Karang Taruna, organisasi pemuda lain kita ajak agar semakin berkembang berbagai produk mawar merah ini,” katanya.

Selain itu, dirinya juga ingin mengaktifkan kembali keberadaan BUMDes Karangpring agar bisa menjadikan usaha produk mawar merah semakin berkembang dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. “Termasuk rebranding,” janjinya.

Ke depan, ia berharap agar desanya juga mampu menghasilkan minyak mawar untuk keperluan bahan baku pembuatan parfum. Dengan begitu, harga jual semakin naik ketimbang olahan seperti pada umumnya. “Anggarannya memang mahal. Namun kita cari kerja sama dengan jaringan lain,” katanya.

Mawar merah Karangpring pun, kini menjadi kekuatan ekonomi baru untuk menggenjot kesejahteraan masyarakatnya.

Baca Lainnya

Kelompok Tani Wanita Mawar, bergantian mengolah lahan
Desa

Kelompok Tani Wanita Mawar, bergantian mengolah lahan

Kelompok tani yang seluruh anggotanya perempuan dan ibu rumah tangga. Aktivitas utamanya menanam sayur, memanfaatkan jeda musim panen tanaman padi. Mereka terbiasa membajak tanah, menanam, memupuk, menyiangi hingga menjual hasil panen.

F Daus AR