Hanjeli, Pangan Masa Depan Dari Sumedang
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengembangkan hanjeli sebagai alternatif pangan masa depan. Bisa menjadi pengganti tepung terigu.

Roti sudah menjadi salah satu makanan populer di Indonesia. Rasanya yang enak dan bervariasi menjadi favorit pengganjal perut selain nasi. Roti pun bisa dinikmati untuk sarapan pagi, makanan siang, hingga kudapan malam bersama secangkir kopi.
Namun kebanyakan, roti dibikin berbahan dasar dari tepung terigu atau berasal dari tanaman gandum. Beberapa inovasi pangan lainnya, juga ada yang terbuat dari tepung sorgum hingga tepung hanjeli.
Tanaman hanjeli tumbuh subur di Jawa Barat dan banyak praktik pengembangan bahan dasar tepungnya. Seperti yang dilakukan oleh Saepul Adnan seorang dosen dari Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Bandung. Dari penelitiannya ia sudah memproduksi roti aneka rasa dan sudah dipasarkan melalui media sosial.
Karakter roti berbahan dasar tepung hanjeli ini pun rasanya tak jauh berbeda dengan tepung terigu. Bahan tepung hanjeli ini pun dinilai kaya dengan serat pangan, antioksidan, dan kalisum yang tinggi.
Hanjeli atau nama latinnya Coix lacyma-Jobi L adalah sejenis tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian. Tanaman ini bisa tumbuh dalam kondisi lahan apapun. Lahan kering hingga basah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Penelitian dan pengembangan produk roti berbahan dasar tepung hanjeli ini pun menjadi alternatif pengganti beras dan bisa mengisi ceruk konsumen gaya hidup sehat karena bebas dari gluten.

Di Jawa Barat, hanjeli biasanya ditanam oleh para petani sebagai pagar dan pakan ternak. Tanaman ini tersebar di wilayah sekitar Bandung, Sumedang, Garut, Indramayu, hingga Sukabumi. Biasanya, bagi masyarakat Sunda, Hanjeli juga sering diolah menjadi aneka makanan bubur, dodol, dan kudapan makanan tradisional lainnya.
Desa Sukajadi, Kabupaten Sumedang, berinovasi dan menjadikan desa mereka sebagai desa wisata gastronomi hanjeli. Konsep wisata desa ini terbilang unik dan berbeda dengan dengan wisata desa kebanyakan di Indonesia. Keberhadaan hanjeli menjadi basis utama mengembangkan berbagai inovasi bidang pangan. Keberadaan hanjeli di desa ini pun turut melibatkan industri rumah tangga dan menghasilkan berabgai aneka makanan berbasis tepung hanjeli.
Tak salah jika Desa Sukajadi, Sumedang ini pun memberikan alternatif wisata yang berbeda. Terlebih Sumedang terkenal karena olahan tahu saja. Di sini pengunjung bisa menikmati aneka olahan hanjeli, seperti bubur, lemper, teng-teng, hingga rengginang.
Kelompok petani hanjeli di desa ini diwadahi oleh Koperasi Warga Tani Pastastik dan menyiapkan perluasan budidaya tanaman hanjeli hingga mencapai 23 hektar.
Menurut warga Desa Sukajadi, budidaya tanaman hanjeli relatif mudah dan murah karena minim biaya dan perawatan. Selain di Desa Sukajadi, hanjeli juga turut dikembangkan di desa lainnya, seperti Desa Ganjaresik hingga Desa Cimungkal yang tak jauh dari Desa Sukajadi. Tanaman ini tumbuh disisi tanaman padi, jagung dan singkong di lahan masyarakat.

Menariknya, pengembangan dan inovasi pangan berbahan hanjeli di desa ini dimotori oleh kelompok perempuan. Kelompok ini berdiri pada tahun 2015 untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal bagi anak-anak di desanya. Kelompok perempuan ini membuat aneka makanan seperti getuk dan bubur berbahan hanjeli.
Bagi masyarakat pedesaan di Sumedang, keberadaan hanjeli memang tidak asing lagi karena biasa digunakan sebagai pangan lokal selain beras. Di berbagai acara hajatan, olahan aneka makanan hanjeli sering disajikan sebagai makanan bagi tamu.
Bahkan, beberapa varietas hanjeli lokal Sumedang juga telah didaftarkan, seperti varietas hanjeli watani Wado dan watani Kiarapayung yang dikembangkan oleh Kelompok Warga Tani Pantastik dan bekerja sama dengan berbagai kampus seperti Unpad dan Universitas Indonesia.
Hanjeli adalah salah satu masa depan pangan lokal Nusantara. Keberadaannya sangat istimewa dan bisa mengurangi ketergantungan tepung terigu. Selain menjadi pangan alternatif selain beras dan tentunya menyehatkan sekaligus bernilai ekonomis.