BUMDes

Catra Kopi Usaha BUMDes Maju Bersama

BUMDes Maju Bersama melibatkan perananan masyarakat dan perempuan di Desa Pesantren, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Melaju bersama kedai Catra Kopi.

Ahmad Yunus
Catra Kopi Usaha BUMDes Maju Bersama
Catra Kopi menjadi sentra yang menghimpun berbagai hasil dan olahan pertanian Desa Pesantren, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ahmad Yunus / Kanal Desa

Kini, Catra Kopi menjadi ikon bagi Desa Pesantren, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kedai ini berhasil menyedot kunjungan dari berbagai kota untuk menikmati hidangan desa. Usaha yang di bangun oleh BUMDes Maju Bersama sejak 2019 ini bermodalkan dari anggaran Dana Desa Pesantren. Pembangunan kafe bernuansa desa ini mendapatkan dukungan dana sebesar Rp 147 juta dan berhasil menyedot pemasukan hingga Rp 500 juta.

Catra Kopi seperti yang diberitakan oleh Radar Pekalongan, memang menjadi unggulan usaha bagi BUMDes Maju Bersama. Usaha desa ini dinilai berhasil dalam mendongkrak perekonomian desa dan mendapatkan apresiasi inovasi perencanaan ekonomi desa berbasis pemberdayaan perempuan dari Pemerintah Kabupaten Batang.

Tak salah, jika di sini, mulai dari barista, kasir, hingga ibu-ibu PKK aktif dan berperan dalam memajukan usaha Catra Kopi. Seperti penyediaan berbagai olahan aneka makanan lokal dalam kedai.

Catra Kopi, ibaratnya memang menjadi terminal pangan lokal dari warga Desa Pesantren. Hasil pertanian sekitar diolah dan menjadi menu utama. Seperti olahan pisang, singkong, dan kopi. Salah satu khasnya adalah produk frozen singkong.

Catra Kopi berdiri di tanah bengkok desa seluas 1,5 hektar dengan pemandangan alam yang menarik. Berbagai bangunan modern pun hadir dan menjadi daya tarik kedai ini. Khususnya bagi kalangan anak muda.

Catra Kopi bergerak menumbuhkan potensi desa dan menyumbang kas desa sebesar Rp 21 juta per tahun. Dana ini telah digunakan sebagai santunan bagi anak yatim, renovasi musola, hingga kegiatan kepemudaan.

Kemajuan perkembangan Catra Kopi menjadi rujukan bagi banyak BUMDes di Batang. Mereka menjadikan Catra Kopi sebagai tempat studi banding karena keberhasilannya dalam mengelola potensi desa, pemanfaatan Dana Desa, hingga manfaat dan pemberdayaan warga sekitar.

Baca Lainnya