BUMDes

BUMDEs Margahayu Tengah: perlahan untung dengan mengelola air bersih

Sebab kebutuhan mendesak dari masyarakat terhadap air bersih, BUMDes Margahayu Tengah mengambil alih pengelolaan air bersih di desa. Dengan penataan dan sistem yang baik, unit usaha ini perlahan menghasilkan pundi rupiah untuk desa sekaligus mengatasi persoalan masyarakat setempat.

Aminuddin A.S
BUMDEs Margahayu Tengah: perlahan untung dengan mengelola air bersih
Direktur BUMDes Margahayu Tengah, Aep Saepulloh, menunjukkan salah satu tampungan air milik BUMDes. Pengelolaan air bersih ini menjadi sumber utama pendapatan bisnis BUMDes (26/10/2021). Aminuddin A.S. / Kanal Desa

Deru mesin pengebor sumur memekakkan telinga, saat Kanal Desa datang ke lokasi pengeboran sumur air bersih di Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung (26/10/2021). Tanah lumpur berwarna kehitaman luber, dari mesin bor yang menancap tanah sampai kedalaman sekitar 100 meter.

Beberapa pekerja terlihat sibuk memasang instalasi rangka tower berbahan besi siku jumbo untuk tandon air. Di lokasi itu nantinya akan dipasang dua tandon air berkapasitas 5 ribu liter dengan ketinggian 6 meter dari permukaan tanah. Kaki-kaki tower itu dikunci dengan cor beton agar kokoh berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi.

Usai dilakukan pengeboran, nantinya sumur itu akan diberi mesin pompa submersible yang berfungsi memompa air dari dasar ke atas permukaan. Mesin ini paling efektif digunakan untuk tipe sumur di kedalaman antara 60 meter hingga 100 meter.

Pengeboran sumur dalam itu merupakan proyek penyediaan air bersih yang digagas oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Marga Bhakti Persada Marteng, Desa Margahayu Tengah, Kabupaten Bandung. Kepala BUMDes Margahayu Tengah, Aep Saepulloh (58), mengatakan proyek ini diperuntukkan untuk menambah kapasitas titik sumber air sumur dalam, agar tidak kewalahan dalam memasok air untuk warga di sana.

“Penguatan kapasitas itu ada di dua titik, dengan pengerjaan sekitar 1 bulan,” ujar Aep kepada Kanal Desa di area pengeboran sumur air bersih (26/10/2021).

BUMDesa Marga Bakti terbilang berhasil dalam menjalankan usaha menyediakan air bersih bagi warga di sana. Mayoritas warga Desa Margahayu Tengah tak kesulitan memenuhi kebutuhan akan air bersih, lantaran dipasok oleh BUMDes Marga Bhakti.

Aep menjelaskan pengelolaan Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) menjadi lini usaha unggulan BUMDes Marga Bhakti. Terkini, BUMDes Marga Bhakti sudah memiliki 32 titik sumber air sumur dalam di wilayah Desa Margahayu Tengah.

Desa Margahayu Tengah pada 2020 lalu telah berstatus Desa Mandiri
Desa Margahayu Tengah pada 2020 lalu telah berstatus Desa Mandiri Kanal Desa / Dashboard Lokadata

Upaya menanggulangi kesulitan air bersih

Permasalahan air bersih menjadi kendala utama bagi warga Desa Margahayu Tengah. Desa Margahayu Tengah termasuk dalam kawasan urban padat penduduk. Menurut Aep, kualitas air permukaan—kurang dari kedalaman 60 meter—di wilayah Desa Margahayu Tengah tidak layak digunakan.

Terlebih, kebanyakan warga membuat sumur dangkal berdekatan dengan septic tank sehingga kualitas air jauh di bawah standar untuk dikonsumsi. Selain itu, saluran PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung pun belum masuk ke Desa Margahayu Tengah. Sebab secara wilayah, desa itu berjarak cukup jauh—sekitar 11 kilometer—dari kantor cabang PDAM Tirta Raharja terdekat yang berlokasi di Soreang.

Alhasil, Desa Margahayu pun mendapat banyak bantuan untuk membuat sumur dalam dengan mesin submersible, baik dari program pemerintah pusat maupun daerah. Di antaranya, bantuan itu datang dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan.

“Bantuan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM ) itu sifatnya umum. Ada dari program Pamsimas, Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP), DAK Kabupaten, APBD, juga APBDes, banyak sekali untuk mendorong air bersih itu, utamanya untuk mendorong tujuan pemerintah 2024 harus akses air bersih universal , dan 2030 harus akses air minum universal,” ucapnya.

Namun seiring berjalannya waktu, pengelolaan titik itu bermasalah dan banyak masyarakat yang mengeluh lantaran masih tidak kebagian air. Tidak meratanya pembagian air dari sumur dalam itu membuat kondisi semakin pelik. “Sampai ada kejadian titik SPAM itu diklaim jadi milik pribadi oleh warga. Kan ini bahaya,” katanya.

“Di sini kan permukimannya padat penduduk, dulu sebelum kami mengelola masalah air ini, sampai warga ada yang berantem,. Itu terjadi di setiap RW bukan di satu titik saja,” ujarnya.

Kepala Desa Margahayu Tengah, Asep Zainal Mahmud (53), mengaku BUMDes kala itu sedang gencar-gencarnya didorong oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Namun, Asep Zaenal kebingungan lantaran melihat potensi sumber daya alam yang bisa dijadikan ladang usaha di wilayahnya nyaris tidak ada.

“Di sini kan wilayahnya urban banyak pendatang juga, profesi warganya di bidang perdagangan dan jasa. Tidak seperti desa lain yang bagus alamnya atau pertaniannya, kan bisa jadi desa wisata,” ucap Asep Zaenal.

Namun, Asep Zaenal dan Aep justru mendapat inspirasi mendirikan BUMDes dari permasalahan air bersih yang melanda warga desa Margahayu Tengah.

Berangkat dari masalah di atas, pada 2014, Asep Zaenal memutuskan untuk mendirikan BUMDes dan salah satu kewajiban BUMDes itu mengelola SPAM. Adanya BUMDes, diharapkan masalah pengelolaan air bersih itu bisa menambah PADes Margahayu Tengah.

Kepala Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Asep Zaenal Mahmud (53), saat ditemui di kantornya (26/10/2021).
Kepala Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Asep Zaenal Mahmud (53), saat ditemui di kantornya (26/10/2021). Aminuddin A.S / Kanal Desa

Peran BUMDes sebagai penata

Aep yang ditunjuk sebagai Kepala BUMDes mengaku kelimpungan di awal berdirinya BUMDes itu. Saat disosialisasikan ihwal pengelolaan SPAM oleh BUMDes, semula ada sebagian warga yang merasa keberatan dan menolak hal itu.

Warga yang menolak itu merupakan warga yang mengelola titik SPAM. Mereka khawatir tak akan mendapat penghasilan dari pengelolaan itu, lantaran akan diambil alih oleh BUMDes. Aep pun menjelaskan kepada pengelola kalau maksud diambil alih oleh BUMDes itu hanya untuk menertibkan masalah pencatatan administrasi saja.

Aep kala itu paham betul dari pengelolaan SPAM yang baik bisa menghasilkan keuntungan, selain memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun selama ini, karena pengelolaannya yang belum maksimal dan masih tercecer. Alhasil keuntungan dari hasil iuran masyarakat hanya menguap saja entah ke mana.

“Awalnya kami hanya meminta laporannya saja. Setelah setahun dikaji terus ada lagi rapat kita dapat dari buku laporan itu titik-titik (SPAM) ada berapa? Titik itu ada berapa kasnya?" ungkapnya.

Dari hasil laporan itu, Aep menemukan dana kas hasil iuran warga yang masuk ke pengelola di 8 titik sumur sebesar Rp86 juta. Namun, saat ditanyakan kepada pengelola ternyata uang kas itu tidak ada sepeser pun. Aep pun kemudian memutuskan untuk membuat skema manajerial yang lebih matang agar bisa memaksimalkan aset beberapa titik SPAM yang dikelola oleh BUMDes itu.

Kepala Desa Asep Zaenal pun membuat regulasi tentang pengelolaan SPAM itu yang tertuang dalam Peraturan Desa (Perdes) nomor 6 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sarana Air Bersih Desa.

“BUMDesa tidak menyingkirkan pengelola itu tapi kami rangkul. Mereka tetap bekerja sebagai pengelola dan mendapat honor sebesar 25 persen dari pendapatan kotor hasil iuran per bulan warga pelanggan air itu,” kata Aep.

Wilayah Margahayu Tengah yang berkarakteristik urban membuat air bersih menjadi salah satu persoalan utama yang berusaha dijawab oleh BUMDes. Tampak salah satu tempat penampungan air milik BUMDes Margahayu Tengah (26/10/2021).
Wilayah Margahayu Tengah yang berkarakteristik urban membuat air bersih menjadi salah satu persoalan utama yang berusaha dijawab oleh BUMDes. Tampak salah satu tempat penampungan air milik BUMDes Margahayu Tengah (26/10/2021). Aminuddin A.S / Kanal Desa

Pengelola itu ditugaskan untuk melakukan pengecekan kondisi sumur dalam. Mereka pun memiliki kewajiban untuk mencatat meteran air pada tanggal 25 di setiap bulan. Usai mencatat pemakaian air oleh pelanggan, pengelola itu menyerahkan bukti catatan pemakaian berdasarkan meteran air kepada pengawai BUMDes. Lantas setelah muncul kuitansi tagihan, pengelola pun melakukan penagihan kepada pelanggan dengan rentang waktu antara tanggal 1 hingga 10 di tiap bulannya.

Salah satu pengelola titik sumur dalam BUMDes, Endang Sudrajat (62), mengatakan ia bertanggung jawab atas permasalahan di titik sumur 7. Endang bertugas melakukan perawatan hingga pengecekan meteran air.

“Setiap bulan saya mengecek meteran air yang terpasang di tiap rumah pelanggan. Kemudian saya juga menagih uang dari pelanggan kalau kuitansi nominal tagihan (pemakaian air) dari BUMDes sudah keluar,” ujarnya.

Pelanggan di sumur titik 7 itu berjumlah sebanyak 200 sambungan rumah (SR). Namun, kata Endang, yang aktif menggunakan air dari SPAM hanya 192 pelanggan saja. Sambungan rumah merupakan istilah untuk pelanggan yang menggunakan air SPAM yang dikelola oleh BUMDes.

Total pelanggan air bersih itu kini mencapai 3.504 SR, dengan rincian sebanyak 2.791 pelanggan aktif dan sebanyak 713 pelanggan tidak aktif. Pelanggan aktif merupakan warga yang benar-benar menggunakan air bersih dari sumur dalam itu. Sementara pelanggan tidak aktif adalah pelanggan yang hanya memasang saluran pipa air beserta meteran airnya tapi tidak aktif menggunakan air dari sumur.

“Biasanya yang tidak aktif ini memiliki sumur sendiri sehingga pemakaian air dari kita tidak terlalu banyak,” ujarnya.

Harga air per meter kubik dipatok Rp3 ribu. Harga ini terbilang murah bila dibandingkan dengan harga air dari PDAM di Kabupaten Bandung yang dipatok Rp5 ribu per meter kubik.

“Apalagi kalau dibandingkan dengan harga air bersih yang dijual pakai jerigen, itu harganya di sini rata-rata di kisaran Rp 2.500 per 20 liter,” ucapnya.

Salah satu warga Desa Margahayu Tengah, Aceng (61), mengatakan dulu air di Margahayu tengah itu mengeluarkan bau tak sedap dan warnanya tidak bening. Namun, setelah adanya SPAM yang dikelola BUMDes, Aceng bersama keluarganya tak lagi khawatir kesulitan mengakses air bersih. Per bulan, rata-rata Aceng membayar tagihan air antara Rp40 ribu hingga Rp60 ribu.

“Kalau sekarang ya enak setelah ada air dari BUMDes ini, harganya murah cuma Rp3 ribu per kubik sudah dapat air yang bersih. Kalau dulu memang airnya bau, nggak tahu kenapa,” ujar Aceng.

Kepala Desa Margahayu Tengah, Asep Zaenal Mahmud mengatakan enggan untuk menaikan harga air dari SPAM itu, lantaran tujuan utama dibentuk pengelolaan air bersih oleh BUMDes itu untuk mengatasi masalah kesulitan warga dalam mengakses air bersih.

“BUMDes kita mau profit, ya boleh tapi untuk harga air jangan dinaikkan karena ini kita lebih menekankan pada benefit untuk warga disini. Makanya saya sarankan cari lagi sektor usaha lain yang bisa profit. Ini sedang dirumuskan oleh pengurus BUMDes,” ujar Asep.

Aep mengatakan selain pengelolaan SPAM, ada dua lini usaha lain yang dimiliki BUMDes Marga Bhakti, yakni pangkalan gas 3 kilogram dan air minum alkali kemasan. BUMDes Marga Bhakti memiliki 4 pangkalan gas, dengan omzet per tahun mencapai Rp300 juta. Sementara untuk sektor usaha air minum kemasan masih dalam proses pematangan konsep dan strategi pemasaran.

“Kita kan punya sumber airnya jadi bahan baku nggak usah beli, kenapa tidak kita bikin air minum kemasan. Kita datangkan mesinnya dari Jepang yang sudah tersertifikasi,” katanya.

Untuk yang sektor usaha air minum kemasan itu, katanya, memang ditargetkan untuk bisa mendapatkan profit besar.

Kantor Desa Margahayu Tengah di Jalan Sadang, Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung (26/10/2021).
Kantor Desa Margahayu Tengah di Jalan Sadang, Desa Margahayu Tengah, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung (26/10/2021). Aminuddin A.S / Kanal Desa

Sumbang 120 juta untuk PADes

Aep mengatakan, dengan manajemen yang baik, hasil pengelolaan SPAM itu mengalami peningkatan dalam sumbangannya terhadap PADes Margahayu Tengah. Dalam rentang waktu 7 tahun, sumbangan PADes dari pengelolaan air bersih BUMDes itu terus naik.

Semula pada 2014, BUMDes dari sektor usaha air bersih hanya menyumbang PADes sebesar Rp4 juta saja, kemudian tahun berikutnya, pada 2015 meningkat menjadi Rp24 juta. Pada 2016, sumbangan PADes naik menjadi Rp35 juta.

Selanjutnya, pada 2018, PADes yang disumbang dari pengelolaan air bersih itu nyaris mencapai dua kali lipat yakni naik di nilai Rp75 juta. Setahun kemudian, tepatnya pada 2019, PADes yang disumbangkan dari sektor ini pun naik menjadi Rp98 juta.

Terakhir, pada 2020, sumbangan PADes dari pengelolaan SPAM BUMDes itu naik sebesar Rp22 juta dengan nilai total PADes Rp120 juta.

“Tahun ini pak kades meminta agar PADes dari BUMDes, khususnya dari pengelolaan air bersih ini naik menjadi Rp150 juta,” ujar Aep.

Skema PADes dari sektor usaha BUMDes Margahayu Tengah diatur dalam Perdes Margahayu Tengah. Desa mendapatkan 10 persen dari laba bersih sebagai PADes. Alokasi lainnya, sebanyak 25 persen untuk pembayaran listrik, 25 persen untuk kas RW, 25 persen untuk pengelola tiap titik sumur dalam, dan 15 persen untuk biaya operasional BUMDes.

Adapun untuk omzet yang diputarkan BUMDesa Marga Bhakti dalam pengelolaan air bersih ini berada di angka Rp1,38 miliar pada 2020. Tahun sebelumnya, yakni pada 2019, omzet yang diputar BUMDesa senilai Rp1,22 miliar.

“Omzet juga sama, terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Pertanyaannya kenapa meningkat, karena titik unit sumur yang kita miliki bertambah terus. Awalnya kan ada 8 titik, sekarang kita sudah ada 32 titik. Saat ini kami menambah bikin sumur lagi di dua titik,” katanya.

Asep Zaenal Mahmud mengatakan PADes itu diperuntukan bagi kesejahteraan masyarakat desa. Dana yang bersumber dari PADes ini bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur tempat ibadah, seperti masjid, pendidikan juga sosial.

“Kita anggarkan untuk biaya operasional kegiatan di tiap masjid atau mushola yang ada di Desa Margahayu Tengah. Di sini ada 32 mushola,” katanya.

Baca Lainnya

Tak Lagi Sulit Air Bersih
BUMDes

Tak Lagi Sulit Air Bersih

BUMDes Karangrejek mengelola air bersih di Desa Karangrejek, Gunungkidul. Berhasil memasok ketersediaan di tengah wilayahnya yang kering dan tandus.

Ahmad Yunus