BUMDes hidupkan kembali wisata Wonosoco yang sempat mati suri
BUMDes Wonorekso, Desa Wonosoco Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus memulai ikhtiar menghidupkan kembali wisata di desa mereka. Bekerjasama dengan pokdarwis, mereka menata kembali infrastruktur sampai pemasaran wisata desa.

Kolam renang itu tak begitu ramai pada Rabu, 10 Agustus 2022 pukul 11.00. Hanya ada beberapa anak. Dua di antaranya asyik berenang, sedangkan lainnya bermain di pinggir kolam yang airnya bersumber dari Sendang Dewot. Sesekali gelak tawa mewarnai kegiatan mereka.
Tak jauh dari kolam renang, sekitar 200 meter, ada sumur berbentuk persegi. Sumur itu berisi air sumber Sendang Dewot. Dari sendang itulah, 1.180 warga menggunakan airnya untuk memasak, minum, dan mencuci. Sesuai keterangan dari Kepala Desa Wonosoco Setyo Budi, nyaris seluruh rumah di Desa Wonosoco tak memiliki sumur kecuali masjid, musala, dan sekolah yang digunakan secara umum. “Semuanya bergantung pada sendang ini,” kata Setyo Budi sambil menunjuk sendang.
Saking berartinya Sendang Dewot bagi Desa Wonosoco, setiap tahunnya, warga desa menggelar tradisi resik-resik sendang. Kegiatannya cukup banyak, mulai dari membersihkan sendang, menyembelih hewan, doa bersama, kirab budaya, hingga pertunjukan wayang klitik (wayang khas Kabupaten Kudus). Air Sendang Dewot juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tak heran, ada saja warga luar daerah yang mengambil air sendang.
Karena potensi itulah, Desa Wonosoco ditetapkan sebagai desa rintisan wisata berdasarkan surat keputusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus No.556/172/23.01/2009 pada 27 Maret 2009. Barulah pada November 2020, desa ini akhirnya resmi menjadi desa wisata.
Selain memiliki dua sendang: Dewot dan Gading, Wonosoco memiliki banyak gua. Namun yang paling terkenal yakni Gua Batu Cantik, Gua Surodipo, dan Gua Keraton. Di sekitar Gua Keraton terdapat sumur yang mengeluarkan air jernih yang konon bisa menyembuhkan berbagai penyakit. “Pengunjung yang mau muncak dan menuju ke gua-gua tersebut akan didampingi tim pendakian yang terdiri dari Pokdakwis dan Karang Taruna,” kata Kades Wonosoco Setyo Budi (10/8/2022).
Tak jauh dari kolam renang juga ada arena permainan anak-anak dan bumi perkemahan (bumper) yang biasanya digunakan kemah anak-anak sekolah dan mahasiswa. “Sayang selama dua tahun ini sepi karena pandemi,” terang Setyo Budi (44). Selain itu desa ini juga memiliki wisata religi seperti makam Ki Pakis Aji, Ki Joko Suro, Dewi Roro Upas, Dewi Sekartaji, Putri Lodoyong, dan petilasan Sunan Kalijaga.
Banyaknya potensi di Desa Wonosoco membuat Pemdes Wonosoco membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diberi nama Wonorekso. Pada 15 Januari 2019, BUMDes Wonorekso akhirnya resmi berbadan hukum. Setelah berbadan hukum, BUMDes Wonorekso bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan karang taruna aktif mengembangkan BUMDes melalui wisata. Sayang, pandemi membuat rencana BUMDes seolah mati suri. Namun, kini BUMDes aktif kembali mengembangkan wisata di Desa Wonosoco. Hal itu ditandai dengan pengembangan Alas Jati Sewu. Hutan jati tersebut disulap menjadi spot foto musim gugur ala Korea dengan menambah ornamen seperti payung, botol warna-warni, arena permainan, tempat duduk, outbond, hingga panggung seni yang instagramable dan cocok untuk wisata keluarga. “Biar wisatawan tertarik datang ke sini dan setelah jauh-jauh datang ke sini tidak kecewa,” Direktur BUMDes Aslori Zaini (10/8/2022).
Upaya BUMDes terus berlanjut dengan membeli tiga All Terrain Vehicle (ATV) dan dua sepeda listrik dengan menggunakan dana bantuan gubernur (Bangub) sebesar Rp 100 juta. Dengan fasilitas ini, Aslori Zaini berharap banyak pengunjung yang tertarik datang ke Wonosoco.

Zaini, panggilan akrab Aslori Zaini mengatakan, untuk masuk ke tempat wisata pengunjung hanya membayar tiket masuk Rp3 ribu dan parkir Rp2 ribu. Pengunjung tidak ditarik tiket lagi jika masuk ke semua wahana kecuali menyewa ATV atau sepeda listrik. “Pakai ATV setengah jam hanya membayar Rp 25 ribu saja. Untuk sepeda listrik Rp 15 ribu dengan durasi waktu setengah jam,” katanya.
Untuk menggunakan bumper, kata Zaini, pengunjung cukup membayar tiket masuk saja. Jika beberapa hari tinggal dikalikan saja.
Zaini mengaku, selama ini BUMDes Wonorekso Wonosoco memang pernah mati suri. Karena anggota belum mengetahui cara mengelola BUMDes sekaligus dua tahun lalu ada pandemi. “Awal tahun ini kami mulai kerja keras lagi,” tuturnya.
Kerja keras itu sejalan dengan adanya pendampingan dari PT Djarum melalui Lokadata bersama Perkumpulan Desa Lestari. Zaini mengatakan pendampingan itu berfokus pada perencaanaan bisnis, tata kelembagaan, hingga membuat laporan keuangan BUMDes sesuai standar. “Biar kami ini bisa mengelola BUMDes dengan benar. Biar bisa mendapatkan pendapatan untuk desa,” tuturnya.
Zaini mengaku selama ini hasil pendapatan wisata tak seberapa. Hasil tak seberapa itu digunakan untuk membiayai perawatan tempat wisata. “Sebab kalau tidak dibersihkan, daun-daunnya banyak sekali. Soalnya dikelilingi banyak pohon. Terlebih di kolam renang dan Alas Jati Sewu” terangnya sambil melemparkan pandangan ke Alas Jati Sewu.
Lelaki dengan rambut penuh uban itu mengaku membagi pendapatan BUMDes menjadi dua: 60 persen untuk Pokdarwis dan 40 pesen masuk BUMDes. Karena pengunjung sedikit, kadang-kadang, Zaini harus nombok. “Bayangin aja, seharian uang yang masuk hanya Rp15 ribu. Untuk membayar tukang sapu saja kurang ini,” kata Zaini (52) lantas tertawa.
Tak hanya itu, beberapa waktu lalu, Zaini juga harus membetulkan ATV yang rusak setelah digunakan pengunjung. “Wah, saya malah keluar duit Rp 750 ribu,” tuturnya.
Ada beberapa kendala dalam mengelola wisata di Wonosoco. Pertama akses jalan. Selama lebih dari lima tahun, akses jalan menuju ke Wonosoco rusak parah. Hal inilah yang menjadi pemicu minat pengunjung. “Sebab desa ini berada di ujung. Jadi butuh akses yang bagus agar pengendara nyaman ke sini,” kata Kades Wonosoco Setyo Budi.
Kendala lainnya yakni banjir bandang dari lereng Pegunungan Kendeng yang setiap tahun melanda desa ini. Pada tahun lalu, banjir terjadi dua kali pada November. Banjir itu mengakibatkan kolam renang penuh lumpur hingga setinggi kurang lebih satu meter. “Pembersihannya susah. Sebab tidak hanya di kolam renang saja, tetapi di lokasi lain juga,” tuturnya Setyo Budi.

Berdasarkan hasil diskusi dari Pemerintah Kabupaten Kudus, Pati, dan Grobogan, ke depan akan ada pembangunan bronjong (dinding penahan) untuk mengantisipasi banjir ini. Selain itu juga perlu adanya reboisasi. Sebab hutan sekarang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.
Kendala lain, pengunjung enggan ke Wonosoco karena jauh. Untuk itu BUMDes mencoba membuat inovasi dengan memasang ornamen agar menarik perhatian pengujung sekaligus mempromosikannya ke media sosial. “Intinya kami terus berusaha agar Wonosoco dikunjungi wisatawan,” terangnya Aslori Zaini.
Zaini mengaku tidak menyerah mengelola BUMDes. Dia bersama dengan anggota BUMDes bertekad untuk mengembangkan BUMDes dengan memanfaatkan potensi di desanya. “Potensi kami ini banyak, tidak hanya alamnya saja, tetapi juga wisata religi, serta budayanya. Jadi pasti bisa berkembang dan maju,” katanya penuh semangat.
Selain wisata, BUMdes juga mengelola sampah desa. Tercatat ada 210 warga dari 450 KK yang mengikuti program ini. Programnya berupa pengambilan dan pemilahan sampah. Ke depan Unit Pengelolaan Sampah, salah satu Unit di BUMDesa Wonorekso Wonosoco yang diketuai Lilik Harmawan, akan merambah ke pembuatan pupuk organik hingga kerajinan daur ulang sampah. “Harapannya bisa menambah pendapatan BUMDes,” papar Zaini.
Ke depan, kata dia, BUMDes akan mengembangkan minuman lidah buaya. Saat ini pembuatannya dilakukan karang taruna dan ibu PKK. “Prosesnya masih panjang hingga nanti masuk perizinan. Namun kami yakin minuman ini akan laku di pasaran,” katanya.
Untuk menyukseskan ini, kata Kades Wonosoco, warga desa diarahkan untuk menanam lidah budaya di rumah masing-masing. “Di tanam di pot-pot. Hasilnya lumayan,” tuturnya.
Untuk modal, Zaini mengaku, saat ini ada anggaran dari pihak desa sebanyak Rp 15 juta. Modal ini digunakan untuk mengembangkan BUMDes, khususnya unit wisata.
Hal ini diakui Kades Wonosoco Setyo Budi. Dia mengaku tahun ini hanya memberi modal Rp 15 juta kepada BUMDes. “Sebab kalau diberi modal Rp 200 juta, saya khawatir BUMDes belum bisa mengelola. Jadi pelan-pelan tetapi pasti, kami beri modal sedikit dulu. Yang penting bisa muter dulu. Kalau sudah berjalan dengan baik, kami akan rutin memberi modal. Harapannya BUMDes bisa berkembang dan menghasilkan pendapatan desa,” harapnya.