BUMDes

BUMDes Ensaid Panjang: Melestarikan Tenun Dayak

Nilai kebudayaan warga Dayak di Desa Ensaid Panjang menjadi modal bagi BUMDes Ensaid panjang mengangkat ekonomi sekaligus kelestarian.

Ahmad Yunus
BUMDes Ensaid Panjang: Melestarikan Tenun Dayak
Anyaman, motif, dan pengembangan tenun Dayak adalah khasanah kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Ahmad Yunus / Kanal Desa

Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat adalah salah satu desa yang masih merawat budayanya secara turun temurun. Mereka adalah warga Dayak yang masih tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang secara berkelompok. Ada 32 kepala keluarga yang mendiami satu rumah sepanjang 116 meter dengan lebar 18 meter itu. Di rumah yang terbuat dari kayu itu terdapat sekat-sekat kamar yang dihuni oleh setiap keluarga.

Kehidupan di Rumah Betang Ensaid Panjang memang guyub dan kental dengan nilai kebersamaan. Masyarakat Dayak mewariskan semangat rukun, damai, dan musyawarah bersama dalam mengjawab kehidupannya. Tak salah nilai-nilai ini terwujud ke dalam nilai budaya, seperti arsitekturnya yang ramah lingkungan.

Kehidupan warga di Ensaid Panjang memang selaras dengan nilai alam. Di ruai atau ruang bersama, biasanya tampak ibu-ibu mengisi waktu luangnya dengan menenun. Kebiasaan menenun ini menjadi keterampilan secara turun temurun yang biasanya dijaga.

Keberadaan produk tenun ini pun menjadi salah satu unit usaha yang kini dikembangkan oleh BUMDes Ensaid Panjang. Tenun ikat dan pertanian menjadi fokus pengelolaan dari BUMDes untuk membantu perekonomian kelompok perempuan dan pelestari kain tenun ikat khas Suku Dayak.

Pengembangan produk budaya bisa menjadi potensi yang bisa mendongrak dan menambah nilai ekonomi seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak.
Pengembangan produk budaya bisa menjadi potensi yang bisa mendongrak dan menambah nilai ekonomi seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak. Ahmad Yunus / Kanal Desa

Pendampingan bagi warga Desa Ensaid Panjang dimulai pada tahun 2018 dengan bantuan dana sebesar Rp 60 juta. Dana desa ini dikelola oleh BUMDes untuk mengembangkan pengelolaan tenun ikat dan menjadi aneka produk seperti tas, baju, dan lembaran kain bermotif tradisional.

Pengembangan tenun masyarakat Dayak ini telah melibatkan 57 perempuan warga Dayak sehingga turut berdampak pada ekonomi keluarga. BUMDes Ensaid Panjang berperan mulai pendampingan hingga pemasaran hingga produk tenun warga dari Desa Ensaid Panjang bisa terjual dengan baik. Setiap tiga bulan sekali setiap catatan dan pembukuan penjualan akan dilakukan evaluasi agar semakin transparan dan baik.

BUMDes Ensaid Panjang memang menjadi garda terdepan agar sentra pengrajin tenun di desa ini semakin berkembang. Mereka juga melayani wisata untuk menginap di tempat ini sekaligus belajar tentang kehidupan warga Dayak Ensaid Panjang. Mulai menenun hingga mengenal pola hidup masyarakatnya.

Rata-rata peneun di sini mampu membuat dua helain tenun tiap bulannya. Mereka menggunakan tenun pewarna alami dan kimia yang sudah ada di pasaran. Untuk tenun alami mereka menggunakan pewarna alam yang ada di sekitar hutan dan biasanya dijual lebih mahal ketimbang yang tenun pewarna kimia.

Tak hanya BUMDes Ensaid Panjang yang terlibat dalam program pemberdayaan di desa ini. Tapi Pemerintah Kabupaten Sintang pun menyiapkan program lainnya, Program Peningkatan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (P2EMAS) untuk melayani pemasaran hingga mewadahi kelompok ekonomi warga melalui Koperasi Jasa Menenun Mandiri. Program pendampingan ini bagian dari konsep Sintang Lestari yang tengah dikembangkan sebagai visi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sintang.

Berbagai produk tenun baik yang berada di bawah BUMDes Ensaid Panjang maupun kelompok warga lainnya kini tak hanya dijual di pusat souvenir Kabupaten Sintang maupun Pontianak. Tapi juga telah dipasarkan hingga di Malaysia melalui pengembangan UMKM binaan Bea dan Cukai Badau dan Kabupaten Sintang. Kerja sama ini diharapkan mampu mengangkat pemasaran sekaligus memperkenalkan produk tenun masyarakat Dayak di Malaysia.

Sektor budaya menjadi modal perubahan bagi BUMDes Ensaid Panjang bersama masyarakat warga Dayak Ensaid Panjang. Perlahan mereka tumbuh dan bergerak agar desanya semakin sejahtera. Terlebih saat ini keberadaan Rumah Betang Ensaid Panjang semakin populer di kalangan wisatawan. Berbagai kunjungan ini turut mendongkrak dan mempromosikan produk tenun mereka.

Baca Lainnya