Desa

Kasur bangunkan warga Ngrejo dari ketertinggalan

Dulu mayoritas warganya beraktivitas mulai siang hingga dini hari mencari kodok. Kini sejak pagi warganya mulai bekerja membuat kasur dan menjadi mata pencaharian utama.

Kusumasari Ayuningtyas
Kasur bangunkan warga Ngrejo dari ketertinggalan
Gapura Dukuh Ngrejo, Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kusumasari Ayuningtyas / Lokadata

Dekade 80-an Dukuh Ngrejo, Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pernah mengenyam stigma dusun “malas” dan tidak normal. Dusun yang mayoritas penduduknya lebih sering tidur di siang hari daripada malam hari.

Kadung identik dengan hal buruk, stigma buruk lainnya melekat. Seperti segala hal yang bersifat merendahkan juga merembet seperti dusun angker, kumuh, anak mudanya nakal, hingga dicap sebagai dusun "maling".

Joko Suhendro, 51 tahun, warga Dukuh Sumber, dusun tetangga Dukuh Ngrejo mengenang dan membenarkan hal itu. “Jika petani di dusun kami beraktivitas sejak subuh, warga Ngrejo rata-rata mulai ke sawah pada siang hari. Terus kalau ada kehilangan di sawah, tanaman atau hasil panen, pasti tuduhan ke warga Ngrejo dan tuduhan itu sering benar,” kata Joko saat ditemui Lokadata.id, Selasa (02/02/2021).

Selain itu, menurut Joko, kondisi lingkungan Dusun Ngrejo juga seperti mendukung stigma itu. Jalan dusunnya masih dari tanah, becek dan lumpur kalau hujan. Kesan angker itu semakin meyakinkan saat masuk dusun melewati barisan pepohonan tinggi dan rimbun seperti jenis pohon bambu, duwet putih, asem, sukun, randu, hingga pohon gayem.

Suasana seram semakin lengkap pada malam hari, gelap dan tak ada penerangan jalan. Genap sudah semuanya, saat dari kejauhan terlihat rumah-rumah penduduk mayoritas temboknya dari gedek dan tanah liat dengan pencahayaan yang minim.

Perempuan menjadi bagian penting dalam proses pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo, Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.
Perempuan menjadi bagian penting dalam proses pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo, Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Kusumasari Ayuningtyas / Lokadata.id

Kini Dukuh Ngrejo, dikenal sebagai kawasan industri kasur rumahan di Jawa Tengah. Dari 204 jiwa penduduk atau 60 kepala keluarga yang tinggal di dusun itu 75 persennya menggeluti usaha yang bahan bakunya dari kapas pohon kapuk dan dakron.

Ada beragam jenis produk dari dusun ini, seperti berbagai jenis kasur, kasur tidur, kasur lantai, hingga berbagai jenis bantal. Hasil produksinya didistribusikan ke beberapa tempat seperti Pacitan, Kulon Progo, Gunung Kidul, Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, dan lingkup daerah Solo Raya hingga Yogyakarta.

“Kini warganya lebih produktif. Hidup normal dan saya senang dengan perubahan teman-teman di sana. Tapi perubahan itu tak terjadi dengan seketika,” ujar Joko lebih lanjut.

Hal senada disampaikan Sanem, 50 tahun, warga Ngrejo menjelaskan kini hampir semua pria dewasa di dukuhnya sudah pergi berjualan sejak pagi. Sedangkan para perempuan pada sejak pagi, jika sedang tidak dalam masa menanam bibit padi, membuat kasur dengan segala prosesnya.

Mulai dari menyeleksi bahan yang mereka dapatkan dari pabrik berupa campuran sisa-sisa pembuatan kain dari pabrik, memilahnya dari lawe atau benang tenun, kapas, kapas sintetis, dakron, silikon dan juga sisa-sisa kain.

Dalam sehari, Sanem bisa menyelesaikan lima kasur lantai atau yang disebutnya dengan kasur Palembang. Dari hasil kerjanya, Sanem memperoleh Rp25.000 dalam sehari yang dibayarkan oleh pemilik industri rumahan saat menyerahkan hasil kasur buatannya.

Pekerjaan Sanem mencakup memasukkan kapas ke dalam kasur sebagai isian, sedangkan kain untuk bahan kasur yang diterimanya sudah berada dalam kondisi terjahit. Sedangkan kapas atau isiannya juga sudah dalam kondisi bersih dan siap pakai. Semua warga yang terlibat dalam industri rumahan pembuatan kasur di Ngrejo seakan sudah memiliki plot penugasannya sendiri-sendiri.

Tarto, warga Dusun Ngrejo siap berangkat menuju Pacitan untuk menawarkan kasur dagangannya.
Tarto, warga Dusun Ngrejo siap berangkat menuju Pacitan untuk menawarkan kasur dagangannya. Kusumasari Ayuningtyas / Lokadata.id

Kepala Desa Sumber, Kuwatno, 56 tahun menjelaskan, perubahan itu terjadi setelah adanya geliat usaha kasur rumahan di Dusun Ngrejo. Bahkan dengan yakin Kuwatno mengatakan, dalam catatan di Kantor Desa, tidak ada pengangguran di Ngrejo.

Kuwatno mengenang, Dusun Ngrejo merupakan dusun yang paling tertinggal dibandingkan dusun lain. Di siang hari, aktivitas perempuan lebih banyak terlihat membersihkan kodok-kodok hasil tangkapan suaminya pada malam hari, yang setelah itu dijual ke pengepul.

“Sepi saat pagi hingga siang, tak bisa sepenuhnya dikatakan malas karena mereka bekerja mencari kodok pada malam hari waktu itu. Sampai sekarang pun masih, tetapi hanya profesi sampingan karena pekerjaan utama warga Ngrejo sekarang pembuat kasur,” kata Kuwatno, kepada Lokadata.id, Selasa (02/02/2021).

Namun kini semuanya sudah berubah, menurut Kuwatno, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan sudah ada di Dusun Ngrejo. Termasuk keinginan untuk berubah dari warga sendiri dengan sistem gotong royong, swadaya, hingga memiliki sistem sendiri menggerakkan ekonomi pembuatan kasur rumahan.

“Sekarang hanya tinggal menjaga kualitas saja dan tentunya berinovasi serta memperluas pasar, misalnya dijual online supaya tidak surut,” ujar Kuwatno.

Asal mula produksi kasur

Kesan kumuh, angker, pemalas yang dulu melekat itu kini hilang. Saat Lokadata.id bertandang ke sana, suasana produktif itu terasa. Hampir setiap rumah yang dilewati memiliki aktivitas yang terkait dengan kasur dan aktivitas lainnya.

Mulai dari pergi ke sawah, membersihkan sisa benang bekas jahitan kasur, memilah dan menjemur kapas. Sekitar 08.00 WIB, terlihat para pria di dusun itu satu persatu meninggalkan rumah dengan berbagai kendaraan dan memuat hasil kasur produksinya untuk dijual.

Warsiti, sosok yang menjadi inisiator munculnya industri rumahan pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo.
Warsiti, sosok yang menjadi inisiator munculnya industri rumahan pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo. Kusumasari Ayuningtyas / Lokadata.id

Warsiti, 51 tahun, atau yang dikenal dengan panggilan Bu RT (Rukun Tetangga) adalah orang pertama yang memulai industri rumahan pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo sejak 1991. Menurutnya dulu kondisi Dukuh Ngrejo sangat kumuh.

Sedangkan kebanyakan warganya saat itu pencaharian sebagai buruh tani, buruh bangunan dan nyuluh kodok (mencari kodok) untuk dijual ke pengepul.

“Semua rumah dibuat dari tanah liat, reyot, seperti hidup di tempat terpencil waktu pertama saya pindah ke sini. Sekarang lihat saja sudah seperti apa rumah-rumah di sini,” ujar Warsiti sambil menunjuk beberapa rumah dari tembok bata dan beton.

Warsiti bukan warga asli Dusun Ngrejo, dia pindah dari rumahnya di Dusun Sumber setelah menikah dengan warga Ngrejo, Paimo. Saat itu suaminya berjualan kasur membantu usaha pamannya di Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.

Setahun setelah menikah, Warsiti dan suaminya merintis usaha pembuatan kasur di Ngrejo. Dari sana dia mulai mempekerjakan 20 orang yang terdiri dari 15 orang tetangganya dan lima lainnya kenalan suaminya dari daerah Gunung Kidul.

Tak disangka, usaha kasur yang dibuatnya laris dan diterima pasar di luar desa hingga kabupaten di luar Klaten. Sepuluh tahun kemudian, tetangga-tetangga Warsiti yang semula membantunya membuat dan menjualkan kasurnya, kemudian mulai belajar merintis usaha sendiri.

Mereka mengumpulkan kapas dan material lain pembuat kasur bersama-sama dan berbagi tugas. Ada yang bertugas memilah bahan sisa produksi yang baru datang dari pabrik, ada yang memproses lawainya, ada yang memproses kapas, dakron, dan silikon dari mencuci, menjemur hingga siap digunakan sebagai isian kasur.

“Tidak ada persaingan di sini, yang belum bisa malah saya ajari, semua di sini percaya rejeki sudah ada yang mengatur, semuanya saling membantu di sini,” ujar Warsiti.

Area permukiman warga di Dusun Ngrejo setelah munculnya usaha rumahan pembuatan kasur.
Area permukiman warga di Dusun Ngrejo setelah munculnya usaha rumahan pembuatan kasur. Kusumasari Ayuningtyas / Lokadata.id

Warsiti berkali-kali menyebutkan bahwa dia senang dengan kondisi Dukuh Ngrejo saat ini yang menurutnya lebih maju. Dari pantauan Lokadata, hampir semua rumah warga berbahan batu bata hingga beton dan terlihat kokoh. Tidak sedikit yang berlantai dua. Jalan masuk dusun dan jalan di gang-gang antar rumah sudah berlapis beton.

Menurut Warsiti saat ini warga Ngrejo memiliki perkumpulan yang bertemu setiap 35 hari sekali, tepatnya setiap Minggu Wage. Dalam perkumpulan itu dibahas mengenai berbagai macam peruntukan dana kas yang dikelola oleh RT.

Dana kas itu merupakan hasil uang iuran warga setiap minggu yang kemudian digunakan untuk membeli perkakas sebagai inventaris RT yang bisa digunakan apabila ada yang punya hajatan atau acara tanpa harus membayar sewa. Selain itu, dana kas juga digunakan dipinjam warga untuk tambahan modal usaha.

Dalam enam bulan terakhir, ada dana dari Pemerintah Desa yang juga dikelola melalui RT yang bisa digunakan untuk suntikan modal sebesar Rp 2,5 juta untuk usaha.

“Sebelum ada dana dari Desa ini, kita sudah berinisiatif membuat sistem simpan pinjam, untuk membantu warga yang modalnya kurang dan itu sudah berjalan dengan baik selama ini,” ujar Warsiti.

Tangkapan layar Dashboard Lokadata dan Status Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 dan 2019.
Tangkapan layar Dashboard Lokadata dan Status Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten dalam Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 dan 2019. Dashboard Lokadata / Lokadata.id

Sekretaris Desa Sumber, Waluyo, 51 tahun, yang juga warga asli Ngrejo mengakui jika saat ini dusunnya berkembang pesat. Kini anak-anak dari Ngrejo seluruhnya sudah bisa bersekolah hingga SMA dan perguruan tinggi.

Satu hal yang membuatnya bangga, anak-anak muda Ngrejo tidak ada yang menganggur. Begitu lulus SMA mereka langsung bekerja, setidaknya ikut menjemur bahan isian kasur.

“Mereka ini istilahnya sungkan kalau sampai tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang sendiri karena melihat mayoritas teman-teman sebayanya bekerja dan punya uang sendiri,” kata Waluyo saat ditemui di Balai Desa Sumber, Rabu (27/1/2021).

Industri pembuatan kasur di Dukuh Ngrejo saat ini memproduksi kasur lantai dengan harga jual mulai dari Rp70.000 sampai Rp170.000 tergantung ukuran dan jenis isinya. Ada juga kasur biasa untuk dipan dengan rentang harga Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Sedangkan bantal dan guling dijual dalam kisaran Rp10.000 sampai Rp35.000.

Baca Lainnya